PUISI, MERANGKAI KATA


"**"Ya Allah...

Dosa-dosaku telah membisu di hadapan-Mu,

Lidahku kelu untuk mengungkapkannya,

Hatiku pun tak mampu menyembunyikannya.


Sungguh jika Engkau menghukumku, itu karena keadilan-Mu,

Dan jika Engkau mengampuniku, itu karena kasih sayang-Mu.


Engkau tahu aku bukanlah ahli ibadah,

Namun aku tak pernah berhenti berharap pada-Mu.


Tuhanku…

Aku datang kepada-Mu dengan membawa dosa-dosa besar,

Namun aku tidak pernah putus asa dari rahmat-Mu yang lebih besar.


Jika hanya orang-orang baik yang boleh berharap kepada-Mu,

Lalu kepada siapa orang berdosa seperti aku bersandar?


Wahai Tuhan yang Maha Pengampun,

Ampunilah aku…"**


"Alifah, Cinta yang Tak Pernah Usai"


Sebut saja Alifah—

ia bukan hanya nama,

melainkan getar lembut yang menetap di dada,

sejak tahun yang jauh,

saat dunia masih belajar mengeja kita.


Ia adalah hujan pertama di musim rindu,

yang jatuh tanpa pernah lelah menyentuh hatiku.

Setia adalah napasnya,

cinta adalah bahasa yang tak pernah ia lupa ucapkan,

meski waktu mencoba memudarkan warna.


Kami tumbuh bersama dalam ketidaksempurnaan,

dua hati yang saling menambal luka

dengan benang pengertian dan jarum sabar

ia mengerti diamku,

aku mencintai caranya menangis dalam pelukanku.


Cintanya bukan kilau yang mudah pudar,

melainkan cahaya hangat di antara bayang-bayang hari.

Kasihnya bukan kobaran sesaat,

tapi api abadi yang tak padam meski angin hidup bertiup kencang.


Alifah,

namamu kusematkan dalam tiap hela nafas

karena sejak kau hadir,

aku tahu:

cinta sejati bukan tentang detak yang cepat,

tapi tentang hati yang tak pernah pergi.


“Cinta dalam Sujud”


Kala malam menyelimuti dunia,

aku termenung dalam sunyi yang fana.

Bukan wajah kekasih yang kurindu,

melainkan cahaya-Mu yang tak pernah layu.


Kupanggil nama-Mu dalam lirih doa,

di antara butir tasbih dan air mata.

Cinta ini tak lagi pada dunia,

telah berlabuh pada yang Maha Cinta.


Kau ajari aku tentang setia,

bukan pada raga, tapi pada jiwa.

Kau bimbing hati tuk mencinta suci,

tanpa pamrih, tanpa ingin dimiliki.


Jika rindu ini menyesakkan dada,

biarlah sujud jadi pelabuhannya.

Sebab cinta sejati tak butuh janji,

cukup yakin, dan hati yang suci.


"Bisikan Hati"

Dalam diam mu kutemukan ketenangan,

dan di matamu kujumpai kelembutan,

jika hatimu lelah oleh waktu,

maka hatiku adalah rumah yang tak pernah lupa padamu.

أشتاق إليك بكل لحظة، لكني أُخفي ذلك خوفًا من أن يكون قلبي وحده من ينبض بهذا الحنين. لو كنت تعلم كم أفتقدك، لاحتضنتَ صمتي قبل كلماتي

"Aku merindukanmu di setiap detik, tapi aku menyembunyikannya karena takut hanya hatiku yang masih dipenuhi rindu ini. Andai kau tahu seberapa besar aku merindukanmu, kau pasti akan memeluk diamku sebelum kata-kataku


“Kasih dalam Takdir Syahdu”

Wahai dinda, permata hati dalam relung sunyi,

tiada yang lebih agung dalam benak kanda

selain hasrat luhur tuk menyayangimu,

seperti kehendakmu yang tertulis dalam takdir semesta.


Kanda ingin menyulam kasih

dengan benang harapan dan sutera keabadian,

agar cintamu tak sekadar singgah di pelabuhan waktu,

melainkan bersemayam dalam samudra jiwa yang hening.


Betapa kanda merindui tiap helai bisikmu,

bagai angin senja yang membelai pucuk cemara.

Dinda adalah madah dalam tiap bait doa,

tembang suci dalam sunyi yang tak terucap oleh dunia.


Jika cinta ini adalah api,

maka biarlah kanda hangus dalam nyalanya.

Jika ia adalah lautan,

niscaya kanda rela karam demi menyelam ke dasarnya.


Sebab mencintaimu, wahai dinda…

adalah ibadah hati yang tak mengenal jeda.

Sebuah janji purba yang telah dikidungkan langit

jauh sebelum kita bersua dalam rupa dan nama.


"Doa di Sepertiga Malam"

Kuhamparkan sajadah di senyap malam,

Saat dunia terlelap dalam pelukan sunyi,

Langit pun tunduk, bulan bersaksi,

Bahwa namamu tak pernah luput dari sujudku ini.


Adindaku, belahan jiwa yang jauh di sana,

Dalam tiap helaan nafas, kutitipkan namamu pada angin,

Kupanjatkan pinta di antara zikir dan airmata,

Agar kau selalu dalam lindung dan cinta Ilahi yang hakiki.


Kala dunia memudarkan warna,

Kehadiranmu menjelma cahaya di hatiku,

Tak perlu hadir raga, cukup kupunya rasa,

Dan keyakinan bahwa Tuhan mendengar rindu yang tak henti kuucap dalam doa.


Di sepertiga malam yang syahdu ini,

Aku mencintaimu dengan cara paling sunyi:

Menitipkanmu dalam setiap harap dan lirih,

Sampai doa-doaku menjadi pelita jalanmu yang bersih.


"Rindu yang Kutitipkan pada Langit"

Adinda,

Dalam heningnya pagi yang berselimut doa,

Kusebut namamu—lembut, penuh cinta.

Bukan karena dunia yang fana,

Namun karena Allah yang tanamkan rasa.


Setiap hembus napasku adalah namamu,

Setiap detak jantungku adalah rindumu.

Tapi sungguh, bukan aku yang kuharap kau temui,

Melainkan Allah—tempat semua cinta kembali.


Ada jarak yang membentang,

Namun doaku menembus ruang.

Di antara tahajud dan istighfar malam,

Aku memanggilmu, diam-diam.


Adinda,

Jika takdir belum merangkai kita dalam dekat,

Biarlah rindu ini jadi amal yang kuat.

Agar kelak, di dunia atau surga-Nya,

Kita berpaut dalam cinta yang tak sia-sia.


Jangan risau akan jarak dan waktu,

Karena Allah menyatukan yang setia menunggu.

Dan aku, di sini,

Masih menyebut namamu... dalam setiap doa yang sunyi.


"Bayang-Bayang di Balik Kecerdasan"

Di ujung jari, mesin mulai berpikir,

mengenali wajah, menulis puisi,

membaca jiwa yang tersembunyi,

dengan logika tanpa nurani.


Teknologi melesat tanpa rem,

menembus batas mimpi dan kenyataan,

namun siapa yang mengatur arah

jika hati tertinggal dalam kegelapan?


Kita ciptakan kecerdasan buatan,

tapi lupa membentuk kebijaksanaan,

di layar terang, dunia bersinar,

tapi di baliknya—apakah benar?


Jika etika tak mengiringi langkah,

AI bisa menjadi tangan yang merusak,

mengaburkan kebenaran dengan ketepatan,

menghapus empati dalam keputusan.


Kita berdiri di persimpangan zaman,

antara harapan dan kehancuran,

dan hanya manusia yang mampu memilih,

apakah ini berkat—atau kutukan yang menyelip.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bayam Brazil