SEJARAH PENGHINAAN dan PANDANGAN ISLAM 

Setelah membaca tulisan ini pembaca pastilah  dapat menduga bahwa ini bukanlah tulisan saya. Pendapat anda benar sekali, karena saya hanya menuliskan kembali apa yang pernah saya baca. 
Saya hanya mencoba menghubungkan situasi yang sedang terjadi dengan apa yang sudah diajarkan oleh agama kita. 

Dalam sejarah Nusantara dan Republik Indonesia, belum pernah ada cacian, hinaan dan fitnah yang paling buruk, baik dari sisi manusia dan agama, kecuali cacian, hinaan dan fitnah yang diarahkan kepada Presiden RI ke 7. Tidak ada satu pun, raja atau presiden, yang menerima sebutan terburuk selain dirinya.

Di negeri yang saat ini bermayoritas muslim dan konon menjunjung tinggi tradisi kesusilaan serta budaya, selama bertahun-tahun memuja kata-kata kotor yang diarahkan kepada pemimpin negara dan bangsa, sementara kebijakan pemerintahannya tetap diikuti.

Perlu daftar panjang menyusun kata-kata berikut penjelasannya untuk mengurai cacian, hinaan dan fitnah serta berbagai tuduhan itu:

"Presiden babi, presiden anjing, pemimpin LGBT, presiden yang akan menghalalkan babi panggang, melegalkan aborsi, anak PKI, cina tulen, antek asing, antek Yahudi, nama aslinya Oei Hiong Liong, sundal alias pelacur, shalat jenazah pakai duduk, mengganti rupiah dengan mata uang Tiongkok, burung unta, sinting, bebek lumpuh, idiot, plonga plongo, dungu, tidak tahu apa-apa, anak pungut, pengecut, ingusan, bodoh, tukang mebel tak pantas jadi presiden, banci, haid, bajingan, dll dll...

Belum yang bernuansa agama: "Pemimpin taghut, Firaun, dajjal, kafir, munafik, ketua partai setan, laknatullah, iblis, dll...

Belum yang fitnah dan hoax yang dilontarkan, dll  ...

Ada sebutan yang lebih buruk dari itu? Tidak ada. J.... adalah makhluk manusia ternista dan terjahat sepanjang penciptaan manusia di muka bumi, melebihi Firaun atau Dajjal.

Dan...... entah apa lagi....

Sebagian besar lontaran atau sebutan itu disampaikan oleh orang-orang yang mengaku beragama Islam! Islam fanatik. Luar biasa bukan? Ini bukan soal baper. Bukan soal tidak terima. Ini soal seberapa banyak kebencian yang kita miliki dan tertanam, serta seberapa dalam akhlak dan etika yang bisa kita lakukan. Di negara paling liberal atau paling ateis pun tidak kita temukan fenomena seperti negeri dengan mayoritas muslim terbesar di muka bumi ini.

Bahkan, setelah seluruh proses pilpres usai dan pemenangan ditentukan, apakah cacian, makian, hinaan, hujatan, fitnah, dan hoax akan berhenti? Tentu saja tidak. Akan semakin banyak orang merasa dirinya lebih beriman sambil memupuk benci dan segala tuduhan.

Beruntungnya, tukang mebel kurus itu bersabar dan diam. Tidak membalas balik dengan makian dan hujatan. Karena inilah, saya sebagai rakyat pemilik kekuasaan tertinggi, kemarin memilihnya.

Kita sedang menulis sejarah kita sendiri. 

Sumber : 
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1205348682977097&id=124369461075030    

BAGAIMANAKAH PANDANGAN ISLAM


Sebagai muslim kita wajib menaati siapapun yang menjadi pemimpin, baik pemimpin rumah tangga, masyarakat, pemimpin agama maupun pemimpin negara. Allah SWT berfirman dalam surat An Nisa’ ayat 59 yang artinya,

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul(Nya), dan ulil amri di antara kamu.” (QS. An Nisa’ : 59)


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Dengarkan dan taatilah, walaupun seorang yang dijadikan pemimpin untuk kalian seorang budak hitam seakan kepalanya bagaikan sebuah anggur kering.” (HR. Bukhari).
“Dengarkan dan taatilah, karena sesungguhnya kewajiban mereka menjalani apa yang menjadi tanggung jawab mereka, dan kewajiban kalian menjalani apa yang menjadi tanggung jawab kalian.” (HR. Muslim). 
Berdasarkan perkataan Ubadah bin Shamit,
“Kami membai’at Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk selalu mendengarkan dan menaati beliau dalam segala hal yang kami senangi atau kami benci, baik dalam keadaan senang ataupun dalam keadaan susah, dan tidak menentang kekuasaan pemimpin.
Ia berkata : ‘Kecuali jika kalian melihat kekufuran yang nyata sedang kalian memiliki dalil yang jelas dari (Kitab) Allah SWT.’”(HR. Bukhari dan Muslim). 
Yang harus digarisbawahi adalah ketaatan kepada pemimpin adalah bukan dalam rangka untuk bermaksiat kepada Allah SWT karena ketaatan kepada Allah harus lebih didahulukan daripada ketaatan kepada mereka.
Terkait dengan hal ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Tiada ketaatan kepada makhluk untuk bermaksiat kepada Sang Maha Pencipta.” (HR. Ahmad dan Hakim).
Atas dasar itulah, maka jika kita sebagai pihak yang dipimpin kemudian berpaling dari kepemimpinan mereka, menampakkan penolakan, atau membenci mereka maka hal tersebut merupakan suatu bentuk keharaman. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Barangsiapa yang membenci sesuatu dari pemimpinnya hendaklah ia bersabar, karena sesungguhnya orang yang keluar dari (kepemimpinan) pemimpinnya maka ia mati dalam keadaan jahiliyah.” (Muttafaqun ‘alaih).    
Pun jika kita menghina siapapun yang menjadi pemimpin kita apalagi yang menjadi pemimpin adalah juga seorang muslim.
Menghina atau mencela pemimpin karena tidak suka, atau dalam rangka mencari-cari kesalahan pemimpin, atau yang lainnya maka hal itu merupakan perbuatan fasiq dan tidak dibenarkan dalam.  Al-‘Iraqiy dalam Takhrij Ihya’ berkata,
“Mencela seorang muslim itu perbuatan fasiq, sedangkan memeranginya adalah perbuatan kufur.” (HR. Bukhari, Al Humaidi, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ath-Thayalisi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Ath-Thabrani dalam Ash-Shagir, dan Al Kabir dari Usamah bin Syuraik dan ia shahih).
Agar kita terhindar dari perbuatan yang demikian yakni berpaling dari kepemimpinan mereka, menampakkan penolakan, membenci atau menghina mereka, maka Islam telah memberikan beberapa pedoman bagi kita bagaimana sebaiknya kita berperilaku sebagai pihak yang dipimpin, di antaranya adalah memanjatkan  doa untuk pemimpin dalam islam, dan berjihad bersamanya. Berikut adalah ulasan singkatnya.
  • Mendoakan para pemimpin kita dengan kebaikan dan agar selalu benar dalam perkataan dan perbuatan.
  • Mendoakan para pemimpin agar selalu mendapatkan taufiq serta terjaga dari keburukan.
  • Berjihad bersama para pemimpin dan shalat di belakang mereka walaupun mereka berbuat kefasikan dan mengerjakan segala bentuk keharaman yang tidak menyebabkan kekufuran.
Kesimpulannya adalah hukum menghina pemimpin dalam Islam adalah haram karena sebagai muslim kita wajib menaati siapapun yang pemimpin dengan catatan pemimpin tersebut amanah dan menjalankan kewajibannya sebagai pemimpin sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan.  
Demikianlah ulasan singkat tentang hukum menghina pemimpin dalam Islam. Artikel lain yang dapat dibaca di antaranya adalah cara memilih pemimpin dalam Islamcara memilih pemimpin menurut Islamdasar kepemimpinan dalam Islamhukum menjadikan wanita sebagai pemimpinkeutamaan menjadi pemimpinmodel kepemimpinan dalam perspektif Islam, dan tipe kepemimpinan dalam pendidikan Islam. Semoga bermanfaat. 



Ulasan saya... 

Berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi adalah peluang besar bagi semua orang untuk memanfaatkannya. Tidak hanya untuk kebaikan tapi juga sebaliknya.  Setiap membuka media sosial dan searching goole ada sederetan panjang kasus penghinaan terhadap pemimpin, fitnah dan hoax berantai yang kebanyakan tidak jelas dari mana sumbernya.  


Anehnya sang Presiden dalam pertemuannya dengan DPR dan pimpinan fraksi meminta UU penghinaan presiden di hapus atau ditiadakan karena katanya dia merasa tidak memerlukan UU tersebut. Subhanallah....

Saya ingat cerita seorang ulama zaman dahulu mengatakan jika ada yang menghina orang lain, dan orang yang dihina tidak menerima atau tidak meladeninya maka hinaan itu kembali ke pemiliknya....... yaitu sang penghina. 

Berari ia menghinakan dirinya sendiri....  





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bayam Brazil

Surat kecilku

PUISI, MERANGKAI KATA