Surat Kecil untuk Mu
Malam ini ada gerimis. Rania melihat ke langit begitu kelam, tak ada satupun bintang yang mau memberi cahaya, jalanan pun mulai sepi, sesekali terdengar suara motor, pasti hanya orang orang tertentu yang punya urusan penting yang mau keluar malam ini, tidak seperti malam minggu biasanya, yang ramai sampai tengah malam.
Binatang malam juga enggan mengeluarkan suaranya mungkin mereka sembunyi di balik dedaun, tak ingin sayapnya basah oleh gerimis malam ini. tak ada keindahan di luar sana.
Rania menutupkan semua gorden dia tak ingin lagi melihat keluar, kegelapan itu hanya semakin mengiris kesunyian, hatinya menjadi semakin perih, Rania memilih duduk di ruang tengah sendiri, sambil menyetel televisi, akan ada acara yang paling dia senangi " MotoGP di sirkuit Misano". tapi kali ini tidak menarik perhatiannya, dia hanya ingin menulis dan menulis. Ada yang menyesak didalam dadanya yang ingin ditumpahkan, tapi sulit sekali memulainya.
Seperti tak ada lagi satupun kata yang pas untuk ia tuliskan, yang dapat mewakili kegelisahan jiwanya, kesunyian hati dan dalamnya rindu yang makin membuncah. besarnya ketakutan mengalahkan bakat menulisnya. Takut salah bicara, takut salah mengerti., takut bahasa resahnya melukai hati orang yang dia rindukan, takut dia pergi membawa dukanya,
Suasana malam ini makin meluruhkan air mata Rania, padahal dia tak ingin lagi menangis, karena dia tau orang yang dia sayangi tidak membutuhkan itu, dia butuh semangat bukan airmata.
Malam kian larut, Rania mencoba membaca sebuah artikel tentang maskulinitas yang konvensional. Sebuah konsep selain membebani laki-laki, juga akan menjadikan laki-laki sebagai korban kontruksi sosial ketika ia gagal meraih superioritasnya. Bayangkan laki-laki juga makhluk yang bernama manusia, yang pasti juga dilengkapi dengan perasaan, emosional, tapi dianggap tidak maskulin jika ia menangis ketika sedih, Itu karena laki-laki sedari kecil tidak diperkenalkan dengan pengelolaan emosi. Alasannya klasik, karena laki-laki harus menjadi sosok yang kuat, pemberani, pantang menyerah, dan hal-hal superior serta heroik lainnya. Akibatnya, bila ada laki-laki yang coba-coba sharing atas masalah yang menimpanya, ia akan dibuly sebagai lelaki yang lemah, dan cengeng.
Meskipun tidak percaya sepenuhnya pada artikel ini, setidaknya dapat membantu Rania memahami berbagai alasan mengapa, mengapa orang yang dia rindukan selalu meyembunyikan kegelisahannya, kerapuhannya, ia tidak ingin terlihat lemah. tak ingin dikasihani, tapi Rania dapat merasakan betapa lelaki yang dia sayangi yang biasanya begitu dewasa, pemberani, mampu menyelesaikan masalah, membutuhkan dukungan semangat darinya. Bagaimana tidak, enam bulan sejak kejadian naas yang merenggut nyawa kedua orang tuanya ia kekurangan dana untuk melanjutkan kuliah, sedangkan skripsinya hampir selesai. tapi egonya itu, membuatnya tak bisa memahami betapa Rania tulus ingin membantunya. Rania ingin melihatnya bahagia, dan bisa tersenyum lagi.
Tanpa sadar, jari-jari Rania mulai menekan keybord dilaptopnya..... beberapa kalimat sudah tersusun di halaman word yang sedang terbuka....
"Lalu apa yang bisa aku lakukan dalam jarak yang panjang ini. selain memeluknya dalam doaku".
"Wahai Rinduku kuatkan dirimu, aku takkan pernah melupakanmu".
"Aku masih disini duduk sendiri memandangi tulisanku yang tak pernah jadi, haruskah kerinduan ini selalu kuratapi disaat orang yang kurindukan membutuhkan kekuatan dan dukungan ku".
"Kucoba menepis semua bayangan yang melemahkan kepercayaan ku padamu, ingin terus kusempurnakan kerinduanku, kau kupeluk dalam doaku.."
Itulah sepenggal kisah yang sempat ku baca dalam mimpi pendek ketika tertidur saat menemani ibuku di rumah sakit. "Nak. ibu haus, ambilkan minum ibu." suara lembut ibu membangunkanku ketika aku pas membalik halaman lanjutan cerita yang sedang ku baca. Saat terbangun, aku tidak melihat selembar kertaspun ada ditanganku. Barulah aku sadar kalau kisah yang berusan kubaca hanyalah mimpi.
Terima kasih....
September2010+4
.
Komentar
Posting Komentar